Lukisan Kenangan

post impressionist, post impressionism, fine art-1428129.jpg

Masih terngiang di kepalaku rekam jejak masa lalu yang tak lekang terhimpit waktu. Seolah terus-menerus memelukku dalam kepingan neraca kehidupan saat itu. Darinya aku mendapatkan arti tetes keringat yang berguguran ini. Dan darinya pula aku mulai memahami hakikat ikhlas sejati.

Rekam tapak kecilku yang senantiasa berjaualan di sore hari, mengelilingi perumahan-perumahan hingga taman kota. Hanya demi mendapat sedikit untung lebih untuk hidup dan sekolah. Semenjak lahir, ibuku telah tiada. Ayah pun, aku tak tahu ada di mana. Yang kutahu dari nenek tua penjual sayur di depan sekolah, aku ditemukan di depan gedung tua. Ibuku telah tergeletak tak bernyawa dan bersimbah darah. Aku hanya menangis karena tak tahu apa. Hingga nenek itu memungutku dan merawatku selayaknya anaknya.

Mendengar cerita itu membuat hatiku tergerak. Aku harus berjuang dan tak boleh menyerah. Kehidupan ini hanya sekelebat fana yang akan lenyap diterkam masa. Tapi asa tak boleh lemah. Aku harus merebut hakku sebagai putera Bangsa. Nenek pun selalu berdoa agar apa yang kuharapkan dapat tercipta.

Semenjak kecil aku memang menyukai seni. Berbagai jenis seni aku pelajari, bahkan nenek pun selalu kaget dengan hasil karyaku ini.

“Kau punya bakat seni yang besar, Nak. Jangan pernah sia-siakan itu! Kau harus tetap semangat meski tak ada yang menghargai karyamu.”

Ah, ucapan yang selalu terlontar dari bibir tuanya. Saat aku hilang harap karena karyaku tak pernah dilirik pelanggan. Karena bakatku tak pernah diakui orang-orang. Tapi beliau selalu ada untuk meringankan beban.

Aku merindukanmu, Nek. Terhitung sudah hampir lima tahun kau meninggalkanku. Dari aku SMP hingga kini menjadi mahasiswa fakultas seni. Aku rindu akan cerita motivasimu tentang sosok besar yang mengubah dunia kesukaanku. Tentang sosoknya yang selalu menjadi panutanku. Dari dulu hingga sekarang, jasanya akan selalu kukenang-seperti ucapanmu.

***

Aku sempat terjatuh dan terpuruk layu. Aku kehilangan penopang hidup karena hampir dikeluarkan dari sekolah akibat tak ada biaya. Saat itu kukira impianku akan segera musnah. Tapi seorang pria tua tiba. Dia melihat lukisan-lukisan yang sengaja kupajang tak beraturan di emperan trotoar ini. Aku malas meladeninya, paling-paling hanya melihat lantas pergi seperti kebanyakan orang. Tapi kali ini berbeda. Ia tampak memandangi lukisan di tangannya dan melirikku sesekali. Sudah tiga puluh menit berlalu dan ia masih saja setia memandangi lukisan itu.

“Nak, apakah ini karyamu?”

Aku hanya mengangguk lemah. Toh, mungkin saja ia hanya kepo akan siapa pelukisnya.

“Boleh aku tahu siapa namamu?”

“Nama saya Ahmad Rayhan Azzamani. Panggil saja Azam, Tuan.”

“Berapa harga semua lukisan ini?”

Bibirku keluh. Mataku seolah terpatri jelas pada sosok tuanya. Mimpikah ini?

“Se… semuanya 150 ribu saja, Tuan.” Suaraku bergetar seolah tak percaya akan apa yang baru saja terjadi. “Apakah Tuan benar-benar ingin membelinya semua?”

“Tentu. Ngomong-ngomong, harga untuk semua lukisan ini terlalu murah, Nak. Sebuah karya seni seharusnya tidak semurah itu. Banyak seniman di luar sana yang menjual karyanya dengan harga selangit.”

“Tapi, Tuan… jika saya menjual dengan harga yang sama dengan mereka, maka tidak aka ada yang membeli lukisan saya.” Sanggahku pada ucapannya. Separuh hatiku membenarkan ucapan sosok tua itu, tapi separuhnya lagi menolak atas dasar kemanusiaan.

“Baiklah, saya akan membeli semua lukisanmu ini. Datanglah ke alamat ini dan melukislah di sana setiap hari Minggu. Bisa?” Pria tua itu menyodorkan selembar kertas kecil yang kusangka adalah tanda pengenalnya. Aku ragu-ragu untuk mengambilnya.

“Terimakasih, Tuan. Besok saya akan kesana.”

“Tetaplah seperti ini, Nak. Bangsa ini perlu sosok yang memikirkan orang banyak sepertimu.” ucapnya seraya berlalu tanpa membawa lukisan-lukisan itu.

“Syukurlah… terimakasih, Tuhan.” Aku melakukan sujud syukur seraya menangis. Terpampang jelas wajah nenek yang kurasa akan tersenyum saat mendengar ceritaku hari ini.

Mentari terbit menyapa hari. Kabut pagi seolah enggan bertranfusi hanya untuk memperlihatkan wajah pertiwi. Mungkin saat ini telah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Aku keluar dari gubuk reyot-rumahku-ini dengan membawa peralatan lukis sederhana. Hanya beberapa kuas yang tak layak pakai, cat yang sudah mulai mengering, dan beberapa kertas sisa yang kutemukan di jalanan. Kusimpan semua itu ke dalam tas dan bergegas menuju alamat yang ditunjukkan sosok tua kemarin.

Kuperhatikan nama bangunan di depanku dan yang tertera di kertas kecil ini berulang kali. Hanya untuk memastikan apakah alamatnya sudah benar atau belum.

“Ada apa, Dik?” Seorang satpam menyapaku di balik pos jaganya.

“Apa benar ini alamat yang ditunjukkan di kertas ini, Pak?” Aku memberikan kertas yang ada di tanganku kepadanya.

“Oh, tentu saja benar, Dik. Apa adik sudah buat janji dengan Tuan Besar?”

Tuan Besar? Pria tua itukah?

“Hmm… saya hanya disuruh kemari oleh sosok pria tua, Pak.”

“Oalah, mari masuk, Dik. Tuan Besar masih menyelesaikan meeting dengan clientnya.” Pak Satpam memintaku duduk di ruang tamu. Pertama kali yang kulihat dari rumah ini adalah: spektakuler. Di ruang tamu ada sofa empuk, vas bunga dengan ukiran yang mahal, ada pula lampu-lampu eksotis, beserta beberapa lukisan cantik yang membuatku terpesona. Kukira beberapa dari lukisan itu adalah karya dari Leonardo da Vinci, seniman terkenal di dunia.

“Maaf membuatmu menunggu, Nak Azam.”

Aku sontak berdiri dan menyalami pria itu. Dia hanya terkekeh dan mengelus 

puncak kepalaku lembut. “Mari duduk lagi.”

“Maaf, Tuan. Tadi saya tidak melihat Tuan tiba.”

“Tidak apa-apa. Saya perhatikan kamu mulai tadi hanya melihat lukisan-lukisan itu. Apakah kamu tertarik?”

“Tidak, bukan begitu, Tuan. Saya hanya kagum terhadap mereka. Seperti yang itu, karya Leonardo da Vinci yang terkenal itu. Dan yang itu karya Paul Cezanne. Nah, kalau yang itu seperti replica dari karya Van Gogh.” Aku menunjuk sopan terhadap beberapa karya yang memang kukenali dan kuhafal jenisnya.

“Hebat, kau mengenalinya dengan sangat baik, Azam.” Dia bertepuk tangan kagum.

“Eh, tidak juga, Tuan.”

“Hehehe. Begini, Nak. Sebenarnya saya memiliki sebuah sanggar lukis. Sanggar itu cukup besar, namun tak ada siapa pun yang ingin melukis di sana. Bahkan para pegawainya sudah banyak yang berhenti. Jadi, saya memberimu penawaran. Bagaimana kalau kamu menjadi pengajar di sanggar lukis itu? Tenang, masalah gaji akan sepadan dengan usahamu.”

“Bapak bersungguh-sungguh?”

“Iya, Azam.”

Aku terperanjat. Otakku berpikir cepat. Tuhan, ini adalah kesempatan emas bagiku. Tapi, bagaimana dengan sekolahku?

“Tapi, Tuan… bagaimana dengan sekolahku?”

“Tenang, Azam. Kelas melukis hanya hari Minggu saja. Selebihnya kau bebas dari sanggar. Dan ya, apa kau tinggal bersama kedua orangtuamu?”
Wajahku yang semula tersenyum riang mendadak terlipat. Entahlah, beliau mengingatkanku pada kematian mereka. Dan kerinduanku pada sosok kedua orangtuaku tetap tak terlupakan.

“Tidak, Tuan. Ayah saya tak tahu ada di mana. Ibu dan nenek sudah lama tiada. Saya sebatang kara di gubuk pinggir jalan sana.” ucapku seraya menunjuk persimpangan jalan di ujung perumahan ini.

Dapat kulihat wajahnya terlihat melipat. Seolah ada tatap bersalah darinya. “Oh, maafkan saya, Nak. Tapi, jika kau berkenan, apakah kau mau tinggal bersama pria tua yang kesepian ini, di rumah ini?”

Aku menunduk diam seribu bahasa. Aku tak tau harus menjawab apa, sementara otakku terus berpikir yang manakah opsi yang benar. Hingga akhirnya wajah nenek terlintas seolah memberikan jawaban atas segala pertanyaan di otakku.

“Baiklah, Tuan. Saya bersedia.”

“Mulai sekarang kau panggillah aku Kakek Bisma, ya?” Dia langsung memelukku erat selayaknya seorang kakek pada cucunya. Kusambut kehangatan itu dengan senyum tulus penuh syukur bahagia.

***

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Aku bangkit dari dudukku seraya meletakkan buku kusam itu dengan hati-hati. Kubuka pintu ruanganku yang menampilkan sosok gadis berhijab tengah menunggu.

“Mas, acaranya akan segera dimulai. Mas diminta untuk segera ke backstage. Oh iya, wawancara kali bertema lukisan kenangan. Berikan yang terbaik untuk fakultas 

ya, Mas.”

“Tentu, Dik. Yasudah mas ambil jas dulu.” Aku kembali masuk dan mengambil jas yang tersampir di sofa. Memakainya dan merapikan pakaianku. Kutatap sejenak buku kenangan yang membuatku terus bernostalgia tentang masa kelam. Masa kelam yang menumbuhkan binar impian.

“Terimakasih, Nek.” (*)

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top